27.11.21

Bagaimana jika para tokoh dongeng klasik saling bertemu satu sama lain di sebuah dunia yang sama?

Ada dua film yang menurut gue sarat unsur dongeng dengan formula keduanya mencampur adukkan berbagai cerita dongeng menjadi satu.

TV Series Once Upon a Time dan film musikal Into The Woods. Disana dongeng klasik seperti Cinderella, Red Riding Hood, sampai Beauty and The Beast (bahkan dongeng modern, Frozen), dimasukkan dan dibuat plot twist.

Once Upon a Time menceritakan tentang para tokoh dongeng yang terjebak dalam sebuah kota bernama Story Brooks. Mereka membutuhkan seorang Savior untuk mengembalikan semuanya ke asal.

Sementara Into The Woods memberi penonton sebuah pertanyaan, bagaimana bila tokoh dongeng klasik hidup dalam satu waktu dan satu kota? Mereka punya keinginan sendiri-sendiri yang ingin dikabulkan. Nah, kalau dalam perjalanan menggapainya mereka saling bertemu dan berinteraksi, apa yang terjadi?

Rasanya agak aneh saja, walaupun kalau diikuti tetap masuk di akal. Meskipun semua nisa di bolak-balik oleh penulis skenario. Tokoh antagonisnya malah jadi tokoh protagonis! Perkembangannya memang akan sangat menarik. 

Perbedaan penting dua cerita di atas adalah setting waktunya. Kalau Once Upon a Time alurnya mundur, dari masa kini ke masa dongeng. Into The Woods memakai timeline alkisah pada suatu waktu (yang jelas bukan jaman orang naik mobil!). Mungkin Hollywood sedang krisis cerita dongeng fantasi menarik pasca Harry Potter? Entahlah. 

Ini jadi seperti melakukan mix and match dalam tema cerita dongeng klasik. Seperti siapa akan berpasangan dengan siapa. Mana cerita yang cocok dipadu padankan.  Bagaimana jika begini dan begitu. 

Trend lain dari film Hollywood dengan formula "bagaimana jika..."-nya apa yang terjadi saat para tokoh yang dianggap jahat itu kemudian menjadi baik?

Sebagai contoh kisah Aurora si putri tidur yang fokusnya malah berubah kepada Maleficent, si ibu tiri kejam yang ternyata bisa baik. Filmnya terbukti sukses karena sampai dibuat sekuelnya. Mirip film Joker versi dongeng yang lebih soft.

Barangkali generasi mendatang sudah tidak bisa mengenali lagi dongeng klasik sesungguhnya, karena sudah ditawarkan berbagai versi dengan ending yang berbeda-beda, sesuai selera. 

Bagaimanapun juga ini membuktikan bahwa dongeng klasik masih diingat dan memiliki tempat tersendiri di hati pemirsa.


Dream Catcher 2021 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates