10.12.21

Kalian paling nyaman nonton film bergenre apa? Di luar sana pilihan tontonan beragam. Ada drama, action, fantasi, thriller, horror, dan sebagainya.

Gue punya pasangan yang suka sekali nonton film superhero, fantasi, dan pertempuran kolosal. Alasannya sederhana, 

"Nontonnya nggak pakai mikir!"

Gue ketawa saja sembari bergumam dalam hati, masa nonton nggak pakai mikir? Walaupun film fantasi tetap saja ada yang namanya alur cerita, konflik, dan penyelesaian, ya nggak? Dan fyi, dia juga bukan termasuk orang yang suka berkhayal seperti gue. Lebih senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan realita dan logika.

Setelah gue merasakan perbedaannya dengan menonton film-film sci-fi, dokumenter, detektif, baru mulai mengangguk-angguk. Iya, memang bedanya kerasa.  Kening gue berkerut selalu di tengah-tengah cerita. Nonton sci-fi jadi mengingat kembali teori-teori sains masa sekolah, nonton film detektif jadi berpikir keras, mungkin pelakunya si A?

Ekspresi gue kalau nonton film fantasi mungkin seperti ini ๐Ÿ˜Š

Kalau film fantasi, gue merasa lebih rileks, karena otak gue membiarkan tontonan di depan mata mengalir apa adanya. Terserah dan suka-suka mau kemana. Sesekali takjub melihat kehebatan animasi 3D yang sangat halus, menciptakan makhluk-makhluk yang mungkin hanya kita bayangkan dalam mimpi. Sudah begitu nggak tegang juga seperti menonton film-film thriller.

Cowok, biasanya suka nonton film yang nggak banyak drama dan pembicaraan. Lebih banyak action, makanya fantasi biasanya masuk juga, karena kebanyakan film fantasi sering melibatkan aksi seru. 

Cewek, kebanyakan suka dengan drama percintaan. Ohya, genre ini nggak pakai mikir, kecuali habis nonton dipikirin terus karena perasaan gemas. ๐Ÿ˜‰ Percintaan sering jadi bumbu seru atau tema di cerita fantasi.  Lihat saja dongeng-dongeng lawas.

Ceritanya apa? Nggak penting, yang penting perang!

Dan gue menyadari kenapa orang yang banyak berpikir justru lebih butuh menyaksikan film yang nggak pakai mikir. Itu akan memberikan seseorang pelarian sejenak dari masalah-masalah riil, semacam pelepasan penat. Membuat hati senang. Saat hati senang kemampuan untuk memecahkan masalah akan datang sendiri. Bisa lebih berimajinasi bagaimana harusnya penyelesaiannya.

Walaupun begitu gue nggak menampik bahwa banyak yang "keterusan" lari di alam fantasi tanpa menyelesaikan masalah di dunia nyata. Bahkan ada yang menjadi kecanduan. Sebagai contoh, anak-anak, remaja belasan tahun, hingga dewasa, yang belum memiliki kemampuan problem-solving di dunia nyata,  mudah terjerumus kecanduan game. Terutama bila di game ia bisa mendapatkan apa yang tidak di dapat di keseharian. 

Intinya, cerita fantasi memang membius hati karena nggak pakai mikir, cuma harus waspada juga kalau kebanyakan dosisnya, perlu pelan-pelan balik ke dunia nyata. Misal, pilih-pilih tontonan yang dekat dengan realita seperti slice-of-life, sci-fi,  dokumenter. 

Model gue, yang doyan berkhayal, nggak disaranin terus menerus nonton genre melayang di awang-awang. Malah perlu banget sering-sering "mendarat" alias pilih tema-tema down to earth. 

Gue terkadang mencoba beberapa genre yang gue merasa nggak cocok karena kurang daya khayal, namun bisa diterima sebagai variasi. Bikin gue  mikir, oh, begitu ya... 

Bila gue menggemari drama percintaan, baiknya gue sesekali cari tema yang agak berbeda. Nggak harus drastis ke tema model crime of passion, tapi cerita-cerita percintaan yang nggak hepi ending, karena hikmahnya kebanyakan malah disitu. 

Little Mermaid Ariel 

Little Mermaid Marina setia pada versi Andersen

Jadi nggak seperti kisah Little Mermaid yang dipaksakan alurnya agar di ending live happily ever after dengan Pangerannya. Cerita aslinya justru dia berubah jadi buih laut karena nggak mau bunuh si Pangeran kan? 

Mungkin alasan si pencerita supaya hidup terlihat lebih positif dan optimis. Sayangnya itu berarti meniadakan kemungkinan lain, dimana orang malah perlu belajar darinya. 

Jadi kalian suka nonton yang pakai mikir atau nggak pakai mikir? Apa yang kalian rasakan?

Image : pixabay.com, Lord of The Ring EA, Little Mermaid Toei Doga & Disney



6 komentar

temenmu bener, mas. saya juga seperti itu, suka nonton film yg ga pake mikir, jd ya menikmati saja alurnya, tanpa perlu susah2 mikirin logika, yg penting asik aja, intinya gitu hehe

REPLY

Iya, betul lumayan untuk sejenak menghilangkan penat.

Aku cewek btw ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

REPLY

Kayaknya aku termasuk orang yg suka nonton film fantasi, mbak, tapi nggak menutup kemungkinan juga bisa nikmatin film-film yang banyak plot-twist dan misterius, mungkin tergantung mood juga sih๐Ÿ˜… Kalau pikiran lagi runyam, memang lebih enak nonton film yang nggak memunculkan spekulasi aneh-aneh di kepala kita, alias mengalir gitu aja. Contohnya film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings. Aku minggu lalu baru nonton film ini, tanpa ekspektasi apa-apa, dan karena udah tau isinya lebih ke fantasi, jadi bikin lebih relaks aja nontonnya. Beda banget sama film-film sci-fi lain yang meskipun nontonnya dalam waktu santai, kadang jadi terpaksa ikut berpikir keras. Apalagi kalau ada dialog-dialog yang scientific abis, auto hah heh hoh pengen rewind๐Ÿคฃ

Btw aku pernah bahas tentang preferensi filmku sendiri di blog, yang judulnya Movie Question Tag. Barangkali mbak ARian mau coba bikin juga, hihi. Salam kenal ya mbak! Makasih sebelumnya udah mampir ke blogku๐Ÿฅฐ

REPLY

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings memang keren ya mbak Awl... dan betulan nggak pakai mikir ๐Ÿ˜Š

Ohya sudah baca yang Movie Question Tag. Seru. Boleh-boleh aku sudah langsung bikin versi aku. Thanks inspirasinya.

Sama-sama mbak Awl. Panggil aRian saja gapapa. ๐Ÿ™‚

REPLY

Eh, aku baru tahu Little Mermaid itu aslinya malah berubah jadi buih, bukan happily ever after sama si pangeran. Soalnya yang populer versi Disneynya yaa..
Aku suka nonton film fantasy, action, seru lihat settingnya yang memanjakan mata.
Belakangan kebanyakan nonton drakor, genre yang fantasy ada Blue Birthday.

Salam kenal yaa, terima kasih sudah mampir ke blogg :)
Film fantasy favoritku masih dipegang sama sekuelnya Harry Potter dkk dari seri 1-6

REPLY

Iyaa cerita asli Andersen si Little Mermaid ​cukup nelangsa karena bertepuk sebelah tangan. Lalu harus bikin keputusan berat antara hidupnya atau pangeran.

Blue Friday perlu dilirik nih. Jarang nonton drakor fantasi. Aku juga suka Harpot walau masih kalah sama Fantastic Beast ๐Ÿ™‚

Sama-sama

REPLY

Dream Catcher 2021 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates